Saat Langit Memanggil
Malam itu berbeda.
Angin laut berembus lebih lembut. Langit begitu jernih. Bulan bulat sempurna, menggantung seperti lentera raksasa di atas desa.
Narmi berdiri di tepi pantai. Di tangannya, botol kaca dan kertas pesan itu masih ia simpan.
Cahaya Ilmu. Cahaya Keberanian. Cahaya Kesabaran.
Ia tidak lagi mencari dengan gelisah.
Ia tidak lagi menuntut jawaban.
Ia hanya berdiri… dengan hati yang tenang.
“Aku sudah belajar,” bisiknya pelan.
“Aku sudah berani.”
“Aku sudah bersabar.”
Ombak datang… lalu surut.
Tiba-tiba, awan tipis bergerak perlahan menjauh dari bulan. Cahaya bulan memantul di permukaan laut, membentuk jalur perak yang berkilau seolah-olah ada jalan panjang membentang dari kakinya menuju cakrawala.
Narmi menahan napas.
Jalur cahaya itu… tepat mengarah ke titik di laut yang dulu ia tandai di peta.
Jantungnya berdegup.
Ia melangkah satu langkah ke depan.
Air laut menyentuh kakinya.
Ia tidak tenggelam.
Ia tidak terseret ombak.
Cahaya di permukaan air terasa hangat bukan seperti air biasa, tapi seperti lantai yang kokoh namun lembut.
Ia melangkah lagi.
Dan lagi.
Setiap langkahnya memunculkan kilau kecil seperti bintang pecah di bawah kakinya.
Ia tersenyum. Tidak takut.
Karena kini ia tahu ini bukan tentang pergi ke bulan dengan tubuhnya.
Ini tentang perjalanan hatinya.
Tiba-tiba cahaya di sekelilingnya berubah. Laut, langit, dan bintang-bintang seakan menyatu. Di hadapannya terbentang sebuah gerbang cahaya berbentuk lingkaran, seperti bulan raksasa yang bercahaya dari dalam.
Sebuah suara lembut, bukan terdengar di telinga, tapi di dalam hati, berbisik:
“Kerajaan Bulan bukan tempat untuk didatangi. Ia adalah keadaan hati yang telah bercahaya.”
Narmi menutup mata.
Ia mengerti sekarang.
Kerajaan itu bukan di langit jauh.
Ia tumbuh di dalam dirinya.
Ilmu membuatnya mengerti.
Keberanian membuatnya melangkah.
Kesabaran membuatnya kuat.
Dan saat tiga cahaya itu bersatu…
langit benar-benar membuka jalan.
Ketika ia membuka mata kembali, ia masih berdiri di tepi pantai.
Ombak biasa.
Langit biasa.
Bulan tetap bersinar.
Namun sesuatu telah berubah.
Ia tidak lagi hanya gadis kecil yang bermimpi melihat bulan. Ia adalah gadis yang sedang menyiapkan dirinya untuk meraih mimpi dengan hati yang bercahaya. Ia tersenyum. Petualangan menuju kerajaan bulan ternyata bukan perjalanan satu malam.
Itu perjalanan seumur hidup. Dan malam itu…
Narmi melangkah pulang dengan cahaya di dalam dadanya yang tak akan padam.
Komentar
Posting Komentar