Mencari Istana Bulan di Keramaian Bintang-Bintang

Di sebuah kampung kecil di tepi pantai, hiduplah seorang gadis bernama Narmi. Ia adalah anak ceria, ringan tangan menolong siapa saja, dengan imajinasi seluas laut yang setiap hari ia pandangi. Sejak kecil, Narmi gemar berpetualang, baik dengan kaki telanjang menyusuri pasir maupun dengan pikirannya yang terbang jauh melampaui cakrawala.

Sepulang sekolah, saat matahari mulai condong ke barat, Narmi sering berlarian di depan rumahnya yang menghadap laut. Ia mengumpulkan kerang-kerang kecil, mendengarkan hembusan angin, dan membiarkan suara ombak menemani senja yang perlahan meredup. Dari pasir-pasir pantai itulah, ia membangun istana kecil—istana pasir yang baginya adalah awal dari sebuah kerajaan impian.

Sebagaimana remaja seusianya, Narmi memiliki mimpi. Ia ingin menjadi tuan putri di kerajaannya sendiri. Dengan tangan kecilnya, ia membentuk menara, gerbang, dan singgasana dari pasir basah. Senyum lebarnya memantul bersama cahaya senja—bahagia, syukur, dan penuh harap atas kehidupan sederhana yang ia jalani.

Hingga suatu malam itu tiba.

Senja berganti malam. Pantai yang tadi ramai kini sunyi, hanya suara ombak yang setia memecah kesunyian. Dalam lelap tidurnya, Narmi terbangun hendak menuju kamar mandi. Saat melangkah pelan, tiba-tiba sebuah cahaya lembut menyentuh wajahnya—menyelinap dari celah jendela rumah kayu itu.

Ia berhenti. Menoleh. Penasaran.

Perlahan, Narmi membuka jendela. Matanya terangkat ke langit.

Di sanalah bulan—bulat, terang, dan anggun—berdiri di tengah keramaian bintang-bintang, seolah menjadi ibu yang menjaga anak-anak cahayanya. Langit malam tampak seperti lukisan Tuhan yang baru saja selesai diciptakan.

“Masya Allah… indah sekali bulannya,” bisik Narmi takzim.

Malam itu menjadi momen yang tak pernah ia lupakan. Sebuah perjumpaan sunyi antara hati kecil seorang gadis dan keagungan ciptaan Tuhan. Di bawah cahaya bulan, imajinasinya kembali berlayar.

Dengan mata berkaca-kaca, ia berdoa:

“Wahai Tuhan Yang Maha Indah lagi Maha Agung,

aku ingin terbang ke angkasa,

mengunjungi istana bulan,

bermain dengan para peri,

dan berpetualang mencari harta karun di negeri cahaya.

Engkaulah sebaik-baik Pencipta,

Tuhan seluruh alam.”


Sejak malam itu, sebuah mimpi lahir dalam diri Narmi.

Mimpi untuk mencari kerajaan bulan bukan sekadar perandain, melainkan dunia harapan yang kelak ingin ia wujudkan di bumi.

Dan di antara pasir pantai, cahaya bulan, dan doa yang tulus. 

petualangan itu pun dimulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi Positivisme Logis Masyarakat Indonesia: Spirit Jayandaru dan Rasionalisme Popper untuk Membangun Peradaban