Pesan Dari Laut Yang Berkilau

Malam semakin larut. Angin laut berhembus pelan melewati jendela kamar Narmi. Setelah berdoa, ia tiba-tiba teringat pada botol kaca yang ia pungut sore tadi.

Jantungnya berdebar kecil.

Ia bangkit perlahan agar tidak membangunkan ibu dan bapaknya. Dari dalam tas kecilnya, ia mengeluarkan botol itu. Botol bening dengan tutup kayu, di dalamnya tampak gulungan kertas kecil.

“Bismillah…” bisiknya.

Dengan hati-hati ia membuka tutup botol. Gulungan kertas itu sedikit lembap, seakan lama terombang-ambing di laut. Narmi membukanya perlahan.

Di dalamnya tertulis dengan tinta biru yang agak pudar:

“Untuk siapa pun yang menemukan pesan ini…

Kerajaan Bulan bukan tempat yang bisa didatangi dengan kaki. Ia hanya terbuka bagi mereka yang hatinya bercahaya.

Jika engkau ingin menemukannya, carilah tiga cahaya:

Cahaya Ilmu, Cahaya Keberanian, dan Cahaya Kesabaran.

Saat tiga cahaya itu bersatu dalam dirimu, langit akan membukakan jalannya.”

Narmi terdiam.

Matanya berbinar.

“Cahaya ilmu… keberanian… kesabaran…” ulangnya pelan.

Ia membalik kertas itu. Di bagian belakang, terdapat gambar sederhana seperti peta kecil. Ada gambar pantai, pohon kelapa, dan tanda bintang di sebuah titik yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

“Ini… ini seperti peta!” gumam Narmi.

Angin malam tiba-tiba bertiup sedikit lebih kencang, membuat tirai kamar bergerak pelan. Bulan bersinar terang, seakan ikut menyaksikan.

Apakah ini kebetulan?

Ataukah jawaban dari doanya?

Narmi menatap kembali pesan itu. Ia teringat perkataan bapaknya:

Mimpi besar dibayar dengan ikhtiar yang besar pula.

Ia tersenyum.

“Baiklah,” bisiknya mantap.

“Kalau kerajaan bulan hanya terbuka bagi hati yang bercahaya… maka aku akan menyalakan cahayaku sendiri.”

Ia mengambil buku diary dan menambahkan satu catatan baru:

2. Mencari Tiga Cahaya.

Lalu ia melingkari titik bintang pada gambar peta kecil itu.

Besok sore…

setelah pulang sekolah…

ia akan mencari tempat yang ditandai. Di luar sana, ombak terus berdebur seperti menyimpan rahasia.

Dan bulan di langit tampak lebih dekat dari biasanya.

Petualangan Narmi… benar-benar baru saja dimulai.

. 

. 

Keesokan Paginya. 

Pagi itu Narmi bangun dengan perasaan berbeda. Pesan di dalam botol masih terngiang di kepalanya. Cahaya Ilmu. Cahaya Keberanian. Cahaya Kesabaran.

Ia memandangi buku diary di mejanya.

Hari ini, ia memutuskan, adalah hari untuk mencari cahaya pertama: Ilmu.

Di sekolah, Narmi tidak seperti biasanya. Ia duduk lebih tegak. Ia mendengarkan guru dengan sungguh-sungguh. Bahkan ketika pelajaran terasa sulit, ia tidak lagi mengeluh.

Saat pelajaran IPA dimulai, guru menjelaskan tentang bulan tentang bagaimana bulan tidak memiliki cahaya sendiri, melainkan memantulkan cahaya matahari.

Jantung Narmi berdegup cepat.

“Jadi… bulan itu bercahaya karena memantulkan cahaya?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.

“Iya,” jawab gurunya lembut. “Bulan terlihat indah karena ia memantulkan cahaya. Sama seperti manusia. Hatinya akan bersinar jika menerima dan memantulkan kebaikan.”

Kalimat itu menancap di hati Narmi.

Sepulang sekolah, ia tidak langsung bermain. Ia membuka kembali buku pelajaran. Ia membaca lebih dalam tentang langit, tentang bintang, tentang angkasa luar. Ia bahkan mencari di perpustakaan kecil sekolah tentang planet dan tata surya.

Hamasah memperhatikannya.

“Tumben rajin banget, Nar. Lagi kejar ranking ya?”

Narmi tersenyum kecil.

“Bukan. Aku lagi cari cahaya.”

Hamasah tertawa. “Cahaya apaan?”

“Cahaya yang bikin mimpi bisa jadi nyata.”

Malamnya, setelah membantu ibu di dapur dan bercengkerama dengan bapak, Narmi kembali membuka kertas dari botol itu. Ia menatap kalimat pertama.

Cahaya Ilmu.

Ia menutup mata dan berdoa singkat.

“Ya Allah, jadikan aku anak yang suka belajar dan tidak malas. Beri aku ilmu yang bermanfaat.”

Saat itu, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan cahaya yang turun dari langit. Bukan sinar yang menyilaukan mata.

Tapi… rasa tenang. Rasa yakin. Rasa semangat yang hangat di dada. Seperti lilin kecil yang baru saja dinyalakan.

Ia tersenyum.

“Kalau bulan bisa bercahaya karena memantulkan cahaya matahari… mungkin aku juga bisa bercahaya karena memantulkan ilmu yang kupelajari.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Narmi mengerti sesuatu. Kerajaan bulan mungkin bukan sekadar tempat di langit. Mungkin ia adalah perjalanan menjadi pribadi yang bercahaya.

Dan cahaya pertama…telah mulai menyala.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi Positivisme Logis Masyarakat Indonesia: Spirit Jayandaru dan Rasionalisme Popper untuk Membangun Peradaban

Mencari Istana Bulan di Keramaian Bintang-Bintang