Percakapan di Bawah Langit dan Doa Malam
Keesokan harinya, Narmi terbangun dari tidurnya.
Suara kokok ayam menyambut pagi—menjadi alarm alami bagi hari yang cerah dan penuh harapan. Hari baru, semangat baru. Dengan langkah ringan, ia bersiap berangkat ke sekolah. Tak lupa, Narmi mencium tangan ibu dan bapaknya, memohon ridho sebelum melangkah.
Di sekolah, Narmi duduk di bangku depan bersama sahabat sebangkunya, Hamasah. Setelah bel istirahat berbunyi, Narmi mengajak Hamasah pergi ke kantin. Mereka memilih duduk di dekat jendela, sambil menikmati jajanan sederhana.
Di situlah Narmi mulai bercerita.
“Eh, Hamasah… malam tadi kamu lihat bulan bulat di langit, nggak?” tanya Narmi antusias.
“Bulan?” Hamasah mengernyit sebentar. “Hmm, nggak terlalu merhatiin sih, Nar. Tapi katanya cantik banget ya. Di kanan kirinya ada bintang-bintang menghiasi langit.”
“Iya,” jawab Narmi sambil tersenyum. “Aku tahu dari status WA teman-teman juga. Banyak yang upload foto langit malam.”
“Betul! Cantik banget!” sahut Hamasah. “Dan Aku penasaran di bulan apakah ada kerajaan bulan nya?”
“Hah?” Hamasah terkejut. “Kerajaan bulan? Mana ada begituan. Itu cuma khayalanmu aja, Nar.”
Narmi tertawa kecil.
“Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi malam tadi tetap jadi malam terbaik bagiku.”
Lalu Narmi bercerita panjang lebar—tentang cahaya bulan, mimpi terbang ke angkasa, menjelajahi bintang-bintang, dan mencari harta karun di negeri bulan. Hamasah mendengarkan, setengah percaya, setengah kagum.
Tak terasa, bel masuk berbunyi. Hingga akhirnya jam pulang sekolah tiba. Narmi dan Hamasah berpisah di gerbang sekolah sambil melambaikan tangan, menyimpan cerita hari itu di hati masing-masing.
Sore harinya, Narmi duduk terdiam di tepi pantai rumahnya. Ia memandangi ombak yang datang dan pergi.
“Kenapa aku terus memikirkan kejadian malam itu, ya?” gumamnya pelan.
“Percaya atau tidak, cahaya bulan itu seperti membawa isyarat tersembunyi. Keinginanku terbang ke bulan… rasanya bukan sekadar omong kosong.”
Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara bapaknya.
“Ini, makan dulu,” kata bapak sambil menyodorkan kue kering dan segelas teh hangat.
“Kalau duduk sendirian di pantai tanpa cemilan, rasanya kayak gombal basah.”
“Hah? Gombal basah apaan sih, Pak?” protes Narmi.
Bapaknya tertawa.
“Ya gimana nggak gombal, ada gadis secantik ini duduk sendirian sambil cemberut. Bapak khawatir dong.”
Narmi tersenyum, lalu memberanikan diri bertanya,
“Pak… menurut bapak, Narmi bisa terbang ke bulan nggak?”
“Apa di sana ada makhluk hidup seperti kita? Mungkin… mereka juga sedang memandang kita.”
Bapaknya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara tenang,
“Narmi tahu kenapa bulan muncul di malam hari, bukan di siang hari?”
Narmi menggeleng.
“Karena malam adalah waktu para pahlawan beraksi,” kata bapak.
“Pejuang kebenaran sering berjalan sendiri. Tidak selalu disorot, tidak selalu dibantu. Tapi dia tetap berdiri dan berjuang.”
Ia menatap Narmi penuh kasih.
“Kalau Narmi punya mimpi terbang ke bulan, percayalah pada mimpi itu. Berusahalah menggapainya. Bapak dan ibu selalu ada di samping Narmi.”
“Dan ingat,” lanjutnya,
“jangan mudah cengeng, jangan putus asa. Mimpi besar dibayar dengan ikhtiar yang besar pula. Jangan pedulikan omongan orang. Percayai kata hati Narmi, dan perjuangkan.”
Narmi memeluk bapaknya erat.
“Terima kasih, Pak. Narmi sayang banget sama bapak dan ibu.”
“Begitu dong,” balas bapak sambil tersenyum.
“Tuan putri itu harus berani dan percaya diri.”
Mereka tertawa bersama, menyaksikan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Di kejauhan, mata Narmi menangkap sesuatu yang berkilau di antara pasir.
Sebuah botol kaca.
Ia memungutnya… dan menyimpannya.
Malam hari, sebelum tidur, Narmi membuka buku diary kesayangannya. Dengan tulisan rapi, ia menulis:
1. Terbang ke Kerajaan Bulan.
Saat semua orang terlelap, Narmi bangun di sepertiga malam. Dalam sunyi, ia bermunajat.
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemberi Petunjuk.
Bimbing Narmi dalam menggapai mimpi-mimpi Narmi.
Engkaulah sebaik-baik Pemberi Petunjuk. Aamiin.”
Tiba-tiba…
Narmi teringat sesuatu.
Tentang botol yang ia pungut sore tadi.
Komentar
Posting Komentar