Epilog: Narmi dan Mimpi Besarnya
Tahun-tahun berlalu.
Pantai itu masih sama.
Ombak masih setia datang dan pergi.
Bulan masih bersinar di antara keramaian bintang-bintang. Namun Narmi… tidak lagi sama.
Gadis kecil yang dulu membangun istana pasir kini tumbuh menjadi remaja yang teguh. Ia tetap ceria. Tetap suka menolong. Tapi kini ia memiliki sesuatu yang lebih dalam keyakinan. Ia tidak lagi berkata,
“Aku ingin terbang ke bulan.”
Ia berkata,
“Aku ingin menjadi cahaya.”
Narmi belajar dengan sungguh-sungguh. Ia membaca tentang langit, tentang sains, tentang kehidupan. Ia tidak selalu menjadi yang terbaik. Tidak selalu menang. Tidak selalu berhasil.
Tapi ia tidak lagi takut gagal. Karena ia tahu, mimpi besar tidak tumbuh dalam satu malam.
Ia tumbuh dalam kesabaran.
Ia dikuatkan oleh keberanian.
Ia diterangi oleh ilmu.
Suatu malam, seperti bertahun-tahun yang lalu, Narmi kembali berdiri di tepi pantai. Angin menyentuh wajahnya. Ia memandangi bulan yang bulat sempurna.
Ia tersenyum.
“Terima kasih,” bisiknya pelan.
Kini ia mengerti. Kerajaan bulan bukan negeri peri di langit. Bukan pula istana emas di angkasa. Kerajaan itu adalah hati yang tidak mudah menyerah.
Kerajaan itu adalah jiwa yang tetap bercahaya walau gelap mengelilinginya. Dan di sanalah ia berdiri sekarang. Di dalam dirinya sendiri.
Botol kaca yang dulu ia temukan kini tersimpan rapi di meja belajarnya. Bukan sebagai benda ajaib… tapi sebagai pengingat bahwa doa, usaha, dan kesungguhan tidak pernah sia-sia.
Suatu hari nanti, mungkin ia benar-benar akan meneliti langit.
Mungkin ia akan berbicara tentang bintang-bintang.
Mungkin ia akan menjadi seseorang yang membantu orang lain menemukan cahayanya.
Tapi malam itu, ia tidak memikirkan sejauh apa ia akan pergi.
Ia hanya tahu satu hal:
Selama hatinya tetap bercahaya,
langit akan selalu membuka jalan.
Dan di bawah keramaian bintang-bintang,
Narmi gadis pantai dengan mimpi besarnya
Tersenyum pada masa depannya.
Komentar
Posting Komentar