Demi Aku dan Cahaya lainnya
Hari itu sekolah mengumumkan sesuatu yang membuat seluruh kelas ribut.
“Besok kita akan memilih perwakilan untuk lomba pidato sains tingkat kecamatan,” kata Bu Rani sambil tersenyum.
Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.
“Siapa yang mau maju?”
Beberapa anak langsung menunduk. Beberapa saling dorong sambil tertawa.
Narmi terdiam.
Pidato sains… tentang luar angkasa. Tentang bulan. Topik yang sangat ia sukai. Jantungnya berdetak cepat.
Ini kesempatan… bisik hatinya.
Tapi… aku tidak berani bicara di depan banyak orang.
Ia teringat saat dulu suaranya sempat gemetar ketika membaca puisi di kelas. Teman-temannya tidak mengejek, tapi ia tetap merasa malu.
Tangannya terasa dingin.
Di kepalanya terngiang lagi kalimat itu.
Cahaya Ilmu. Cahaya Keberanian. Cahaya Kesabaran.
Ilmu sudah ia cari. Kesabaran mulai ia latih.
Sekarang… keberanian.
Bu Rani kembali bertanya, “Tidak ada yang mau mencoba?”
Ruangan sunyi.
Narmi menatap buku catatannya. Di sana ia menulis tentang bulan yang memantulkan cahaya. Tentang mimpi menjadi pribadi yang bercahaya.
Tapi cahaya tidak akan terlihat kalau terus disembunyikan, pikirnya. Tangannya perlahan terangkat.
Tidak tinggi.
Tidak mantap.
Tapi terangkat.
“Saya… Bu.”
Beberapa teman menoleh kaget.
Bu Rani tersenyum hangat. “Baik, Narmi. Coba kamu maju.”
Langkahnya terasa berat saat berjalan ke depan kelas. Lututnya sedikit gemetar. Nafasnya cepat.
Ia berdiri. Menatap teman-temannya.
Untuk sesaat, ia ingin kembali ke kursinya.
Lalu ia menarik napas panjang.
Ia membayangkan bulan di langit malam.
Bulan yang tidak punya cahaya sendiri… tapi tetap bersinar. Kalau bulan saja berani memantulkan cahaya, kenapa ia tidak berani membagikan ilmunya?
Ia mulai berbicara.
Awalnya pelan.
Sedikit terbata.
Namun ketika ia mulai menjelaskan bagaimana bulan memantulkan cahaya matahari dan bagaimana manusia bisa memantulkan kebaikan… suaranya perlahan menjadi lebih jelas.
Ia lupa pada rasa takut.
Ia fokus pada apa yang ia cintai.
Saat selesai, kelas hening sejenak.
Lalu terdengar tepuk tangan.
Tidak gemuruh.
Tapi tulus.
Narmi tersenyum. Nafasnya masih cepat, tapi hatinya terasa ringan. Hangat. Ia baru saja melakukan sesuatu yang sebelumnya ia takuti.
Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski takut. Di dalam dadanya, satu cahaya lagi menyala.
Cahaya Ilmu. Cahaya Keberanian....
Dan jalan menuju kerajaan bulan… semakin terang.
.
.
Beberapa hari setelah lomba pidato, pengumuman hasil seleksi akan dibacakan.
Sejak pagi, perut Narmi terasa aneh. Bukan sakit… tapi penuh dengan rasa menunggu.
Ia sudah melakukan yang terbaik.
Ia sudah belajar.
Ia sudah berani.
Sekarang… ia hanya bisa menunggu.
Di papan pengumuman, anak-anak mulai berkerumun.
“Siapa yang terpilih?”
“Cepat baca!”
Narmi berdiri agak jauh. Tangannya saling menggenggam.
Bu Rani menempelkan kertas di papan. Semua langsung berebut melihat. Hamasah berlari mendekat, lalu membaca keras-keras,
“Perwakilan lomba pidato sains: Raka Pratama.”
Hening...Nama itu bukan namanya.
Seolah suara ombak tiba-tiba berhenti di telinganya. Bukan Narmi. Ia tersenyum kecil… tapi ada sesuatu yang terasa jatuh di dalam hatinya. Hamasah menoleh, wajahnya canggung.
“Maaf ya, Nar…”
Narmi mengangguk pelan.
“Tidak apa-apa.”
Tapi saat ia berjalan menuju bangkunya, langkahnya terasa berat. Ada bisikan kecil di dalam hatinya.
Sudah belajar… sudah berani… tetap tidak terpilih.
Sepulang sekolah, ia tidak langsung ke pantai. Ia duduk di kamar. Menatap botol kaca dan kertas pesan itu.
Cahaya Ilmu. Cahaya Keberanian. Cahaya Kesabaran.
Ia mengerti ilmu.
Ia sudah mencoba berani.
Tapi… apakah ini bagian dari kesabaran?
Ia menunduk.
Air mata hampir jatuh bukan karena marah, tapi karena kecewa pada harapannya sendiri.
Lalu ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan bapaknya saat perahu mereka tidak mendapat ikan.
“Tidak setiap hari laut memberi hasil. Tapi kita tetap melaut dengan hati yang baik.”
Kesabaran bukan hanya menunggu ombak surut.
Kesabaran adalah tetap percaya walau hasilnya belum sesuai harapan.
Malam itu, Narmi tidak berdoa meminta kemenangan.
Ia berdoa meminta hati yang kuat.
“Ya Allah… kalau bukan sekarang, mungkin nanti. Kalau bukan lewat lomba, mungkin lewat jalan lain. Tapi jangan padamkan cahayaku.”
Keesokan harinya, ia tetap belajar seperti biasa.
Ia tetap membantu ibu.
Ia bahkan mendatangi Raka dan berkata, “Semoga sukses ya. Kamu pasti bisa.”
Raka tersenyum lebar. “Terima kasih, Narmi.”
Dan di saat itulah… sesuatu yang berbeda terjadi.
Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada suara dari langit.
Tapi di dalam dadanya, terasa ketenangan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Ia tidak lagi belajar karena ingin dipilih.
Ia tidak lagi berani karena ingin dipuji.
Ia belajar dan berani… karena itu bagian dari dirinya. Dan itulah saat cahaya ketiga benar-benar menyala.
Cahaya Ilmu.
Cahaya Keberanian.
Cahaya Kesabaran.
Tiga cahaya itu kini tidak terpisah.
Malamnya, saat ia melihat bulan, ia merasa bulan tampak lebih terang. Bukan karena bulan berubah. Tapi karena hatinya sudah bercahaya.
"Apakah langit akan mulai membuka jalannya?"
"Ataukah masih ada satu ujian terakhir sebelum kerajaan bulan terlihat?"
Komentar
Posting Komentar